Laman

Selamat datang ^_^

Selasa, 20 Maret 2012

Pembagian Ras Penduduk Indonesia

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, masyarakat Indonesia dapat dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok ras, yaitu:
 a. Kelompok ras Papua Melanezoid, terdapat di Papua/ Irian, Pulau Aru, Pulau Kai.
 b. Kelompok ras Negroid, antara lain orang Semang di semenanjung Malaka, orang Mikopsi di Kepulauan Andaman.
 c. Kelompok ras Weddoid, antara lain orang Sakai di Siak Riau, orang Kubu di Sumatra Selatan dan Jambi, orang Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau Enggano, dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai. d. Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan menjadi 2(dua) golongan.
 1) Ras Proto Melayu (Melayu Tua) antara lain Suku Batak, Suku Toraja, Suku Dayak.
 2) Ras Deutro Melayu (Melayu Muda) antara lain Suku Bugis, Madura, Jawa, Bali. Di samping kelompok ras di atas, masyarakat Indonesia juga terdiri dari kelompok warga keturunan Cina (ras Mongoloid), warga keturunan Arab, Pakistan, India, ras Kaukasoid, dan sebagainya yang hidup berdampingan membaur menjadi satu warga negara Indonesia.
Masyarakat Indonesia tidak mengenal superioritas suatu ras dan tidak menganut paham rasialisme. Salah satu perekat suku bangsa yang berbeda-beda di Indonesia adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Selasa, 13 Maret 2012

Egokah aku ?? -,-

“ayo dong Ren. Ntar kita telat loh.” Ujar Shofia sambil berlari menunggu angkutan. “iya sabar ngapa. Aku juga buru-buru tau!” kataku sambil memeperbaiki baju. Namaku Reni, aku sekolah di SMP Bintang Muda kelas 3. Dia namanya Shofia sahabatku. Aku dan Shofia selalu bersama sejak kelas 2. Kami punya banyak kesamaan, dan karena kesamaan itulah aku sudah menganggapnya seperti kakak kandungku bahkan aku sudah menganggapnya seperti saudara kembarku. Kami selalu mendukung satu sama lain. Kami selalu berdua dan terkadang kami bercerita satu sama lain seperti kejadian lucu sewaktu TK ia menyukai Ade teman sekelasku juga, dan masih banyak lagi. Hari ini aku sudah kelas 3. Yap, kelas yang paling atas di SMP. Hari ini upacara penerimaan siswa baru sekaligus menentukan MOS (Masa Orientasi Siswa). Di barisan tentunya aku dan Shofia berdampingan. Tak beberapa jam kemudian, upacara pun berakhir, semuanya masuk ke kelas masing-masing. Tempat duduk belum ada yang mengatur jadi kamilah yang mengatur sendiri. “Fia, kita duduk sama-sama ya.” kataku. “hmm,…” ujarnya sambil berfikir. Tiba-tiba Shofia melihat Nasya duduk sendiri “hmm, maaf ya Ren. Bukannya aku gak mau duduk sama kamu tapi aku kasihan lihat Nasya duduk sendiri” katanya sambil berlari menuju tempat duduk Nasya. Aku pun hanya merengut, ya sudah lah. Lalu jadilah aku duduk disebelah Aulia yang anaknya pintar banget. Beberapa minggu kemudian… Aku sudah mengenal teman-teman sekelasku yang sekarang berbeda. Ada yang dulu satu kelas denganku ada juga yang tidak tetapi kini menjadi teman sekelasku. Lumayan asyik lah. Aku mulai melihat tempat duduk Shofia tapi.. “lho? Tuh anak kemana sih?” lalu aku pun mencarinya. Mulai dari kantin, mushalla, koperasi, tetapi dia gak juga ada. Sampai akhirnya aku jumpa dia dengan Nasya di WC. “kau tuh kemana aja sih! Orang capek cari dia!” lalu akupun lari ke kelas. pelajaran pun dimulai, aku belajar berkelompok dengan Aulia, Nadya, dan Welly, tetapi kurang satu orang lagi. dengan inisiatifku sendiri aku pun mengajak Shofia untuk bergabung. Ternyata dia udah bentuk kelompok sendiri. Aku benar-benar begitu sebal dengannya. Beberapa bulan kemudian… Shofia kini sudah banyak berubah. Dia sudah sangat berubah. Dia tidak seperti Shofia yang dulu. Shofia yang selalu mengajakku kemanapun ia pergi. Dia sudah bahagia dengan Nasya. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi. apa aku menyusahkan buatnya? Dia kini seperti tidak mengenalku lagi. dia menganggapku seperti orang asing baginya. Aku benar-benar tidak mengerti dengannya. Dia kini tidak pernah pulang sekolah denganku, tidak pernah memintaku untuk menemaninya. Hari Jum’at ini pelajaran olahraga, ketika itu ia tidak memakai baju olahraga. Saat selesai maraton yang jaraknya lumayan jauh, aku pun sengaja duduk disampingnya. Aku melihat Shofia bercerita dengan Sella. Lalu, saat mereka berhenti bicara, aku mencoba untuk ikut bicara. Ternyata pembicaraanku langsung dipotong dengan Shofia. Aku pun mulai sedih, ingin rasanya meneteskan air mata. Tapi kucoba tahan. Lalu, Shofia memandangku “kenapa kau Ren? Kau tadi mau bilang apa?” katanya merayuku “gimana aku mau bicara, kalian tidak ajak aku untuk ikutan. Aku dicuekin aja” kataku sambil pergi dari mereka. Sesampaiku di rumah, aku membuka diary-ku dan ku tulis sesuatu untuknya Aku pun menutup diary-ku lalu menangis sepuas-puasnya. Aku merasa sakit hati dengannya. Mengapa tidak deri dulu dia seperti ini? mengapa disaat aku mulai menyayanginya dia seperti ini? kau mau apa! Bilang lah! Jangan kayak gini dong! Kalau gak mau lagi bersahabat denganku, OK! Kita berakhir aja! Aku sudah muak denganmu! Kau terlalu sibuk! Kau sudah benar-benar melupakanku sekarang! OK ! WE ENDING NOW! DON’T DISTURB ME!